Kemenkeu: Realisasi KUR NTT 2025 Capai Rp2,75 Triliun, Lampaui Target Debitur

Kemenkeu: Realisasi KUR NTT 2025 Capai Rp2,75 Triliun, Lampaui Target Debitur

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah merilis data terbaru mengenai penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga akhir tahun 2025. Realisasi KUR di wilayah ini mencapai angka fantastis, yakni Rp2,75 triliun, menjangkau puluhan ribu pelaku usaha. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan sektor UMKM di daerah.

Data tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu Provinsi NTT, Adi Setiawan, di Kupang. Angka ini mencerminkan 94,5 persen dari target penyaluran KUR yang ditetapkan untuk tahun 2025. Pencapaian ini menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal.

Total 64.853 debitur telah menerima manfaat dari program KUR hingga 30 Desember 2025, jauh melampaui target awal jumlah debitur. Peningkatan ini menunjukkan aksesibilitas KUR yang semakin baik bagi masyarakat NTT, khususnya para pelaku usaha mikro dan kecil. Program ini diharapkan terus berlanjut untuk kesejahteraan masyarakat.

Capaian Signifikan Penyaluran KUR di NTT

Kemenkeu mencatat bahwa realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat di NTT telah mencapai Rp2,75 triliun hingga 30 Desember 2025. Angka ini menyentuh 94,5 persen dari total target penyaluran KUR tahun 2025 yang sebesar Rp2,91 triliun. Meskipun nilai nominal belum 100%, jumlah debitur yang terlayani justru melampaui ekspektasi.

Target awal debitur KUR di NTT untuk tahun 2025 adalah 27.828 orang. Namun, realisasinya mencapai 64.853 debitur, atau 132,24 persen dari target, bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat. Ini menunjukkan tingginya minat dan kebutuhan masyarakat akan akses permodalan yang terjangkau.

Untuk KUR Mikro dengan skema konvensional, target sebesar Rp2,17 triliun bagi 22.620 debitur telah terealisasi Rp2,04 triliun. Sebanyak 61.176 debitur berhasil mendapatkan pembiayaan ini, menegaskan dominasi segmen mikro dalam program KUR. Sementara itu, KUR dengan skema syariah ditargetkan sebesar Rp62,22 miliar untuk 3.080 debitur.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi penyalur KUR terbesar di NTT, dengan kontribusi mencapai Rp2,25 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada 59.366 debitur, menunjukkan peran krusial BRI dalam mendukung program pemerintah ini. Keberhasilan ini tidak lepas dari jaringan luas BRI di seluruh pelosok NTT.

Dominasi Sektor Perdagangan dan Distribusi Wilayah

Penyaluran KUR di NTT masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran, dengan porsi sebesar 52,58 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar dana KUR dimanfaatkan untuk kegiatan jual beli, yang merupakan tulang punggung ekonomi lokal. Diperlukan upaya untuk diversifikasi penyaluran ke sektor lain.

Adi Setiawan menekankan pentingnya pemerataan penyaluran KUR ke sektor-sektor lain yang potensial. “Untuk selanjutnya diperlukan upaya bersama agar penyaluran lebih merata pada sektor lain, terutama bidang perikanan yang baru mencapai 2,54 persen,” ujarnya. Sektor perikanan memiliki potensi besar di NTT dan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Secara geografis, Kota Kupang menjadi wilayah dengan penyaluran KUR terbesar, mencapai Rp296,24 miliar untuk 3.770 debitur. Kabupaten Sikka menyusul dengan Rp195,97 miliar untuk 5.127 debitur, menunjukkan konsentrasi ekonomi di dua wilayah ini. Konsentrasi ini juga perlu diperhatikan untuk pemerataan pembangunan.

Di sisi lain, beberapa kabupaten masih memiliki realisasi penyaluran KUR yang rendah. Kabupaten Malaka tercatat hanya Rp16,10 miliar untuk 105 debitur, dan Kabupaten Sabu Raijua dengan Rp5,07 miliar untuk 134 debitur. Ini menunjukkan tantangan dalam menjangkau daerah-daerah terpencil dan perlu strategi khusus.

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) Tumbuh Signifikan

Selain KUR, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga menunjukkan pertumbuhan yang positif di NTT. Hingga 30 Desember 2025, total penyaluran UMi tercatat sebesar Rp354,68 miliar. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan 12 persen secara tahunan (yoy), mendukung lebih banyak usaha ultra mikro.

Pembiayaan UMi ini telah menjangkau 59.187 debitur, menunjukkan kenaikan sebesar 1,68 persen secara tahunan. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi penyalur terbesar untuk UMi, dengan nilai Rp338,69 miliar yang disalurkan kepada 67.397 debitur. Skema kelompok mendominasi penyaluran ini.

Sama seperti KUR, sektor perdagangan besar dan eceran juga mendominasi penyaluran UMi, dengan porsi 97,64 persen dari total. Ini menunjukkan bahwa usaha ultra mikro di NTT sebagian besar bergerak di bidang perdagangan. Upaya diversifikasi sektor juga relevan untuk pembiayaan UMi.

Kabupaten Manggarai tercatat sebagai wilayah dengan penyaluran UMi terbesar, mencapai Rp36,60 miliar untuk 6.915 debitur. Data ini memperkuat gambaran bahwa akses permodalan mikro sangat dibutuhkan di berbagai daerah di NTT untuk menggerakkan roda perekonomian.

Sumber: AntaraNews