Pemulihan pasokan listrik di Aceh pascabanjir dan longsor masih berlangsung secara bertahap. Kerusakan infrastruktur kelistrikan yang parah dan tersebar di banyak titik menjadi tantangan utama dalam proses normalisasi.
Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menilai kondisi tersebut tidak bisa dihindari. Menurutnya, banjir dan longsor merusak jaringan listrik hingga gardu induk, sementara lokasi bencana tidak terpusat di satu wilayah. Setiap titik memiliki karakter kerusakan dan akses yang berbeda sehingga penanganannya harus disesuaikan.
Agus menjelaskan, sistem kelistrikan yang saling terhubung membuat proses penyalaan listrik harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Tahapan pemulihan dimulai dari pengecekan keamanan peralatan, pengujian awal, hingga masuknya beban secara bertahap agar tidak memicu gangguan baru di wilayah lain.
Ia menegaskan perbedaan kecepatan pemulihan di tiap daerah bukan disebabkan lambannya petugas di lapangan. Variasi tingkat kerusakan dan kondisi medan menjadi faktor utama yang memengaruhi waktu penanganan. Meski demikian, Agus melihat kemajuan terus terjadi di sejumlah lokasi seiring proses teknis berjalan.
Sementara itu, PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena pasokan listrik belum sepenuhnya pulih. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pihaknya telah berhasil menyalakan kembali listrik di empat kabupaten yang sebelumnya mengalami pemadaman total, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues.
Namun, PLN mengakui masih terdapat desa serta jaringan tegangan rendah yang membutuhkan waktu lanjutan untuk diperbaiki. Hingga saat ini, Banda Aceh masih mengalami pemadaman bergilir akibat kekurangan pasokan listrik sekitar 40 megawatt (MW).
Di sisi lain, klaim pemerintah terkait pemulihan listrik hingga 97 persen mendapat bantahan dari anggota DPR RI Dapil Aceh II, Ruslan M Daud. Ia menyebut kondisi di lapangan belum sepenuhnya normal karena masih banyak wilayah terdampak yang listriknya belum menyala.
Menurut Ruslan, pemadaman berkepanjangan menghambat pemulihan pascabencana dan memberatkan masyarakat. Sejumlah layanan publik belum berjalan optimal, sementara pelaku usaha kecil terpaksa mengandalkan genset dengan biaya operasional tinggi. Ia pun mendesak pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, untuk mempercepat pemulihan pasokan listrik di Aceh.
Sumber Kontan.co.id
