Menperin Tegaskan Kerja Sama Industri RI–Rusia Terus Menguat, Nilai Perdagangan USD 4 Miliar

Menperin Tegaskan Kerja Sama Industri RI–Rusia Terus Menguat, Nilai Perdagangan USD 4 Miliar

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia terus menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Hal itu disampaikan saat ia menghadiri pertemuan bilateral sekaligus membuka Indonesia–Russia Business Matching di Moskow pada awal Desember 2025.

Menurut Menperin, hubungan Indonesia dan Rusia semakin strategis. Kerja sama ini juga diperkuat oleh pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kondisi tersebut meningkatkan kepercayaan pelaku industri Rusia terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Kepercayaan itu tercermin dari kinerja perdagangan dan investasi kedua negara. Total perdagangan bilateral nonmigas pada 2024 tercatat mencapai USD 3,9 miliar. Hingga Oktober 2025, nilainya telah melampaui USD 4,04 miliar dan terus menunjukkan tren positif.

Selain perdagangan, investasi Rusia di Indonesia juga mengalami pertumbuhan. Pada 2024, nilai investasi tercatat sebesar USD 262,7 juta. Sementara hingga September 2025, investasi Rusia telah mencapai USD 147,2 juta.

Menperin menilai capaian tersebut menjadi bukti kuat besarnya potensi kerja sama industri kedua negara. Stabilitas ekonomi dan prospek pengembangan industri nasional menjadi daya tarik utama bagi investor Rusia.

Untuk memperkuat kerja sama, Indonesia dan Rusia tengah menjajaki penyelesaian dua dokumen penting. Salah satunya adalah MoU on Cooperation in the Field of Shipbuilding yang membuka peluang kerja sama industri perkapalan. Dokumen lainnya terkait riset keselamatan penggunaan chrysotile asbestos.

MoU riset chrysotile asbestos telah ditandatangani oleh Menperin Agus Gumiwang dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Anton Alikhanov pada 8 Desember 2025 di Moskow. Menperin berharap dokumen kerja sama lainnya dapat segera diselesaikan agar memberikan kepastian bagi pelaku industri.

Di sisi lain, dialog intensif terus dilakukan untuk mengatasi berbagai hambatan teknis. Salah satu tantangan utama adalah tingginya biaya logistik akibat jarak geografis yang jauh. Pemerintah kedua negara berupaya mencari solusi bersama.

Menperin juga mengapresiasi pelaksanaan Working Group on Trade, Investment and Industry ke-6 pada Maret 2025. Forum ini menghasilkan sejumlah kesepakatan teknis di bidang industri, logistik, perdagangan, hingga penguatan rantai pasok halal.

Indonesia turut mendorong percepatan perjanjian Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (IEAEU FTA). Perjanjian ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk industri nasional.

Selain kerja sama bilateral, Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam kerangka BRICS. Salah satunya melalui keterlibatan dalam BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC) yang fokus pada pengembangan industri, digitalisasi, dan peningkatan sumber daya manusia.

Melalui berbagai kerja sama tersebut, Indonesia berharap dapat memperkuat daya saing industri nasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan ketahanan rantai pasok di tingkat global.

Sumber: Antara News