Gunung Lewotobi Laki-laki Naik ke Level Awas, Potensi Erupsi Eksplosif Menguat

Gunung Lewotobi Laki-laki Naik ke Level Awas, Potensi Erupsi Eksplosif Menguat

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi menaikkan status aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT). Kenaikan status ini berlaku mulai Senin malam, dari sebelumnya Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas). Keputusan ini diambil setelah melalui analisis visual dan instrumental yang menunjukkan peningkatan signifikan pada aktivitas gunung.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki tergolong masih tinggi, sehingga memerlukan peningkatan kewaspadaan. Perubahan tingkat aktivitas vulkanik ini mulai berlaku efektif pada pukul 21.00 Wita. Peningkatan status ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat sekitar untuk senantiasa siaga dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Kenaikan status ini didasari oleh data kegempaan yang menunjukkan adanya suplai magma baru yang besar dan bergerak cepat menuju permukaan. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya erupsi eksplosif, seperti yang telah diamati pada erupsi terakhir gunung tersebut pada 18 Oktober 2025. Oleh karena itu, langkah antisipasi dan mitigasi bencana menjadi sangat krusial.

Peningkatan Aktivitas Vulkanik dan Indikasi Magma

Dalam kurun waktu delapan jam terakhir, tercatat 64 kali gempa vulkanik dalam dan 21 kali tremor non-harmonik di Gunung Lewotobi Laki-laki. Lana Saria menegaskan, “Kenaikan kedua jenis gempa ini menunjukkan adanya suplai magma baru yang cukup besar dan bergerak cepat menuju permukaan. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya erupsi eksplosif.”

Peningkatan aktivitas gempa vulkanik dalam yang terjadi mulai pukul 14.00 Wita mengindikasikan pergerakan suplai magma baru yang cepat menuju permukaan. Fenomena ini merupakan sinyal kuat adanya potensi erupsi eksplosif yang perlu diwaspadai. Erupsi terakhir gunung ini tercatat pada 18 Oktober 2025, pukul 00.44 Wita.

Meskipun jumlah gempa embusan dalam satu minggu terakhir terlihat fluktuatif, hal ini menunjukkan adanya tekanan gas yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik di kedalaman dangkal. “Fluktuasi ini menunjukkan adanya tekanan gas yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik di kedalaman dangkal. Meski demikian, jumlah gempa yang relatif stabil menandakan suplai gas dan magma masih berlangsung secara terus-menerus,” tambah Lana Saria.

Pergerakan Magma dan Imbauan Kewaspadaan

Secara visual dan berdasarkan data kegempaan, aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki mulai menunjukkan tren kenaikan dalam dua hari terakhir. Data deformasi dari tiltmeter juga menunjukkan pola inflasi yang signifikan dalam rentang waktu singkat, yang mengindikasikan pergerakan magma yang mempengaruhi permukaan tubuh gunung api.

Selain itu, data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) masih memperlihatkan fluktuasi pada komponen vertikal selama satu minggu terakhir. Namun, dalam tiga hari terakhir terpantau mengalami kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan pergerakan magma dari kedalaman dalam ke arah dangkal masih berlangsung ke arah permukaan.

Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi, serta 7 km sektoral pada arah barat laut–timur laut. Pemerintah daerah juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan selalu mengikuti arahan resmi. “Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya,” ujar Lana Saria.

Selain itu, masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana juga diimbau untuk mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat. Terutama pada daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, seperti Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Bagi warga yang terdampak hujan abu, dianjurkan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk melindungi saluran pernapasan. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan jika sebarannya mengarah ke area tersebut.

Sumber: AntaraNews